Fila Ariyanti

Lulusan D2 PGSD UNS Surakarta,saat ini menjadi salah satu pengajar di kabupaten Cilacap,Jawa Tengah....

Selengkapnya
Setangkai Daun Pisang

Setangkai Daun Pisang

Panas siang itu seketika meredup karena mendung menggantung di atas langit. Dengan sedikit berlari kecil Bu Marni menuju halaman depan untuk segera mengangkat kasur yang sedang dijemur. Ternyata panas yang sedari tadi sudah cukup menghangatkan kasur dan bantal yang terkena ompol anak Bu Marni. Segera satu persatu Bu Marni mengangkat dua buah kasur besar dan bantal-bantal yang terbuat dari kapas randu itu.

‘’Ihan, Ayo cepat bantu ibu. Kamu angkat baju-baju di atas jemuran di belakang rumah. Sebentar lagi, hujan akan turun’’ kata Bu Marni pada anaknya yang sedang menonton televisi. Segera anak itu mematikan televisi dan berlari ke belakang rumah untuk mengangkat baju-bajunya yang sudah kering.

Setelah dua buah kasur dan bantal selesai di angkat Bu Marni segera meletakkan kasur di atas dipan lalu melapisinya dengan sprei dan sarung bantal miliknya. Segera setelah selesai, Bu Marni menuju ke belakang rumah tempat ia menjemur baju-baju anaknya dalam kawat panjang yang di pasang antara tembok rumah dan kamar mandi.

Ketika membantu anaknya mengangkat baju-baju di atas jemuran di belakang rumah, Bu Marni melihat setangkai daun pisang yang patah terkena angin/sengkleh. Pohon pisang itu milik tetangganya yang rumahnya berdampingan dengan rumah Bu Marni. Mungkin terkena angin besar sehingga sampai patah tangkai daunnya,’’guman Bu Marni dalam hati.

Setangkai daun pisang itu sebagian terjatuh dan masuk kedalam tembok bagian belakang rumah Bu Marni, sebagian lagi tangkainya yang patah masih menempel pada batang pisang yang terletak di kebun milik tetangga. ‘’Rejeki daun pisang ini, buat membungkus ikan asin peda pasti nikmat’’, pikir Bu Marni.

Bu Marni celingukan kesana kemari mencari payung dan caping tapi tidak menemukannya. Ia pun berjalan di tengah gerimis menuju rumah tetangga yang memang berdampingan. ‘’Lik...lik.. kok sepi’’,kata Bu Marni. Tak berapa lama Lik Sari yang dipanggil-panggilnya mendongakkan kepala lewat pintu belakang rumahnya. ‘’Ada apa, De? Kok gerimisan di kebun belakang?’’ tanya Lik Sari. Bu Marni langsung menjawab sambil memegang pisau di tangan kanannya,’’ Itu daun pisang yang sengkleh buat aku ya, Lik?’’ Lik Sari segera menjawab.’’Iya, diambil saja’’. Segera Bu Marni memotong tangkai daun pisang yang sudah patah itu untuk di bawanya pulang. ‘’Makasih, Ya Lik...’’kata Bu Marni sambil tersenyum dan berjalan pulang berpayungkan daun pisang itu.

Sesampainya di dapur Bu Marni segera memotong daun pisang lalu menyobeknya menjadi bagian kecil dan membersihkan dengan lap kering. Ihan anak laki-lakinya yang sering membantu ibunya tiba-tiba sudah muncul di belakang Bu Marni. ‘’ Ibu akan membuat apa sih kok pakai daun pisang?’’ tanya Ihan. Bu Marni tersenyum dan menjawab,’’Ibu akan membuat ikan asin peda yang di kukus. Daun pisang ini untuk ngetum’’. Anak itu bertanya lagi,’’Ngetum itu apa sih, Bu?’’ Sambil terus membersihkan daun pisang Bu Marni menjawab,’’Ngetum itu membungkus. Sana belikan ibu laos untuk bumbunya biar rasa amis ikan asin berkurang’’ kata Bu Marni sambil memberikan uang kertas dua ribuan.

Ihan bergegas menuju warung Tua Surip untuk membeli laos. Biasanya laos juga jarang membeli karena di kebun Bu Marni juga menanam laos, jahe, temu ireng dan kunyit. Karena hari semakin sore dan hujan di luar, ia malas mengeduk laos di kebun belakang.

Dengan cekatan Bu Marni menyiapkan bumbu-bumbu yang akan digunakan dalam membuat pepes ikan asin peda. Bawang merah,bawang putih yang diiris ditambah laos dan batang serai yang di iris tipis, juga daun salam segera Bu Marni membungkus satu persatu ikan asin peda yang sudah dicucinya. Ketika akan menyemat ikan asin yang sudah di bungkus Bu Marni bingung karena lupa belum membuat biting/lidi yang diiris menyerong untuk menyemat daun pisang. Ahh...pakai tusuk gigi saja, praktis,’’gumannya dalam hati. Segera ia mengambil beberapa tusuk gigi untuk menyemat pepes ikan.

Sambil menunggu ikan yang sedang dikukus, Bu Marni mencuci piring, dalam hati ia bersyukur sore itu mendapatkan rejeki berupa setangkai daun pisang. Beberapa hari yang lalu ketika Bu Marni bersilaturahmi ke rumah Pak Sarwan, teman suaminya yang sudah pensiun Bu Marni diberi seplastik ikan asin peda dan teri Medan.

Teri Medan langsung dimasaknya karena memang anak-anak Bu Marni menyukainya. Tapi ia bingung ikan asin peda mau dimasak apa. Setiap hari makan lauk atau sayur yang digoreng kata suami Bu Marni kurang baik bagi tubuh. Usia sudah di atas empat puluh itu harus mengurangi minyak. Usahakan memasak tidak harus digoreng. Begitu bila suaminya mengingatkannya.

Setelah setengah jam berlalu Bu Marni segera mengangkat pepes ikan asin peda dan menghidangkannya ke sebuah piring. Tak lupa ia membungkus empat buah pepes untuk Lik Sari yang memberinya daun pisang.’’Ihan, antarkan pepes ini ke rumah Lik Sari, ya’’kata Bu Marni sambil memberikan bungkusan plasik kepada anak itu. ‘’Sudah matang ya, Bu pepesnya’’ jawab anak itu sambil bergegas menuju rumah Lik Sari.

Akhirnya santap malam itu Bu Marni dan anak-anaknya menikmati pepes ikan asin peda. Ikan asin peda pemberian Pak Sarwan, teman ayahnya. Dan pembungkusnya setangkai daun pisang yang patah karena hempasan angin yang cukup besar sore itu. Suami dan anak-anak Bu Marni terlihat lahap sekali menikmati santap malam bersama. Nikmatnya pepes ikan asin peda gratis...meskipun terasa asin namun membuat makan lahap dan nambah lagi...

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Alhamdulillah, lezatnya terasa sampai di Solo Rezeki harus dimanfaatkan sehingga semakin barokah

07 Dec
Balas

Nggih, Bun. Terimakasih Bunda Sri berkenan singgah ke rumah Marni. Sehat, semangat dan berkah untuk Bunda Sri, keluarga dan sahabat...

07 Dec

Alhamdulillahirabbil alamin. Datangkan kebarokahan dari selembar daun pisang yang séngkléh Lik Sari. Terciptanya pepes ikan peda dari chef handalan bertangan dingin asal Cilacap, rekatnya hubungan dengan tetangga dengan saling memberi. Duh ...,nikmatnya hidup di alam pedesaan Bu Fila. Ditunggu cerpen Bu Marni berikutnya.

07 Dec
Balas

Jauh lebih tenang hidup di desa, bu. Saat kangen kota saya mudik ke Solo. Tetap adem ten dusun, bu. Mksh, bu Ayu sudah singgah ke rumah Marni yang ramai anak-anak namun tenang lingkungannya. Sehat, semangat dan berkah utk ibu, keluarga dan sahabat...

07 Dec

Alhamdulillah pepes ikan asin yang nikmat. Lebih nikmat lagi bisa berbagi dengan tetangga. Barakallah bunda

07 Dec
Balas

Iya, Bu. Menemani nasi hangat.Mksh,bu Dyahni sudah singgah ke dapur Marni yang bau ikan asin. Sehat, semangat dan berkah utk ibu, keluarga dan sahabat...

07 Dec

Mmmm...nikmatnya pepes ikan sampai ke Jogja, Bu Marni emang jagonya masak nih. Semangat Jumat Jeng Fila, semoga penuh berkah

07 Dec
Balas

Untuk menemani sang nasi, bu. Mksh, bu Lupi sudah singgah di rumah Marni. Sehat, semangat dan berkah utk ibu, keluarga dan sahabat...

07 Dec

Ya Allah bu, air liur hampir menetes, enak sekali oeda pepes dimakan dg suasana dingin, jadi pingin, hehehe. Bu Marni pandai masak yah sahabatku... Sukses selalu dan barakallah

07 Dec
Balas

Peda pepes hangat dengan nasi hangat dlm dinginnya hujan.Mksh,ibu sudah singgah di dapur Marni.Sehat,semangat dan berkah utk Bu Pipi,keluarga dan sahabat...

07 Dec

Hmmmmm...aromanya sampai Kebumen.....Mbakyuuuu....Nyong dadi kepengin....Semoga selalu sehat dan menginspirasi....Barakallah..

07 Dec
Balas

Asin, nglawuhi bu... Mksh, sudah singgah ke rumah Marni. Tak kencengi manggleng bae, bu...

07 Dec

Masyaallaah,.luar biasa. Bunda Fila, menurut aku bunda Fila harus mengumpulkan semua tulisan bunda ke dalam buku inspirasi dan motivasi. Karena menurut aku, tulisan-tulisan bunda Fila akan nilai-nilai karakter mulia. Sehat dan sukses terus bunda. Barakallaah ❤

08 Dec
Balas

Saya harus berusaha menulis lagi biar banyak, Bu. Mungkin suatu saat nanti. Makasih, Bu Lia kunjungannya ke rumah Marni yang ramai anak-anak. Sehat, semangat dan berkah untuk Ibu, keluargadan sahabat...

08 Dec

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali